saya membuat blog ini ingin membagi ilmu dari hobby saya guyyss!!
mau tau tentang apa hobby saya?
mari kita simak baik-baik ya guys....
perkenalkan nama saya Herza Purwa Sundari status saya sebagai Pelajar, saya sekolah di SMK negeri 1 Cianjur, saya masuk jurusan atau keahlian Administrasi Perkantoran hobby saya yaitu membuat cerita pendek dari karangan yang dialami dari pengalaman saya...
Kali ini saya akan memberikan sedikit cerpen yang menarik cukk...
disimak yaa>>
Ayah
Aku
melirik
jam weker di sebelah bed lamp. Jarum jam menunjukkan pukul enam
pagi.
Aku meregangkan otot-ototku yang masih terasa kaku. Aku gerakkan
punggungku ke
kiri dan kanan untuk membebaskanku bergerak. Hari ini, aku harus
sesegera
mungkin berangkat ke kantor, atasanku ingin menemuiku. Aku heran mengapa
hanya
aku saja yang disuruh menemuinya, rekan kantorku yang lain tidak.
Dengan
malas aku melangkahkan kakiku menuju ruang tengah. Terdengar suara
seorang wanita sedang bernyanyi di dapur. Angel. Istriku yang tengah
hamil enam
bulan sedang membuat sarapan untukku. Perlahan aku menghampirinya. Aku
memeluknya dari belakang ketika ia mengocok telur.
“Lagi masak apa?” tanyaku sambil mencumi pipinya.
“Ini, aku bikin telur dadar buat kamu, sayang.” Jawabnya sambil terus
menggerakkan tangannya yang lincah.
“Oya, semalam ayah kamu telepon, sepertinya dia ingin bicara dengan
kamu.”
Tambah istriku memulai pembicaraan.
“Kapan? Kok aku gak tahu?” balasku.
“Semalam, setelah kamu pulang dari kantor. Ketika aku bilang kamu lagi
tidur ,
ayah kamu mengurungkan niatnya buat ngomong sama kamu, lagian beliau kan
tahu
kalo kamu lagi tidur, gak mau diganggu, susah dibangunin lagi,” jawabku
istriku.
“Ya, biar aku telepon nanti, mungkin Ayah Cuma ingin tahu kabarku di
Bandung,”
***
Namaku Johan, usiaku saat ini 29 tahun. Di usiaku yang masih muda ini,
boleh di
bilang aku termasuk pemuda yang beruntung. Aku bekerja di salah satu
kantor
keuangan di Bandung sebagai akuntan. Di antara semua karyawan yang ada
di
kantor, aku adalah anak kesayangan atasanku. Ia sering memberiku gaji
tambahan
karena aku biasa mengerjakan pekerjaan tepat waktu dan boleh dibilang
memuaskan
daripada karyawan yang lainnya. Kesuksesan ini tidak aku dapatkan secara
instan
dan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Aku masih begitu ingat,
betapa
semangatnya ayahku yang bekerja sebagai cleaning service untuk
membiayaiku sekolah meski aku tahu, penghasil ayah saja pas-pasan untuk
makan
sehari-hari.
“Yah, aku mau berhenti sekolah saja,” jawabku suatu ketika, saat aku
duduk di
bangku kelas dua SMA.
“Untuk apa?” tanyanya sambil melirikku dengan tatapan kurang setuju.
“Aku tidak mau Ayah terbebani dengan biaya sekolahku,”
Ayahku tersenyum, “Kamu gak usah mikir biaya sekolah kamu, itu urusan
Ayah.
Kalau kamu berhenti sekolah, sama saja kamu mematahkan semangat Ayah.
Ayah
tidak mau kamu nantinya seperti Ayah yang hanya tamatan SD ini,”
“Iya, Yah. Tapi, apa Ayah masih sanggup membiayai sekolahku?”
Ayah mengeluarkan dompet dari kantong celananya, dompet yang lusuh,
robek di
sana-sini, “Biar dompet Ayah ini sudah tidak layak pakai seperti ini,
tapi bisa
membiayai kamu sekolah. Ayah akan melakukan apa saja untuk bisa
menyekolahkanmu, karena Ayah ingin kamu sukses,” jawabnya sambil
menunjukkan
dompet lusuh itu padaku, anak satu-satunya.
Aku tersenyum lebar, “Terima kasih, Yah! Nanti, kalau aku sukses, pasti
aku
ganti dompet Ayah yang lusuh itu dengan yang lebih bagus,” jawabku.
***
Telepon genggamku berdering keras ketika aku tengah sibuk menyelesaikan
pekerjaanku. Aku yang sedang meyusun laporan keuangan perusahaan – yang
harus
diselesaikan dengan segera – menghentikan aktivitasku sejenak. Aku
merogoh
telepon genggam di saku celanaku. Ku lihat di layar, tertulis nama Ayah
sedang
menelponku.
“Halo, Yah!” jawabku segera.
“Halo, Joe! Sedang apa?” tanyanya.
“Ini nih, aku lagi sibuk nyusun laporan keuangan, mesti diselesaikan
hari ini,
Yah! Ada apa, Yah? ” tanyaku.
“Tidak apa-apa, Ayah hanya sekedar ingin
ngobrol
saja,”
“Oh, jangan sekarang ya, Yah! Nanti
Johan telepon
lagi! Pasti Johan telepon,” janjiku.
“Baiklah,” jawab Ayahku.
***
Jam sepuluh malam, aku baru tiba di
rumah. Dengan
pikiran yang lelah, aku memasuki rumah. Aku baru pulang dari kantor.
Ketika jam
kerja sudah habis, aku masih harus menghadiri meeting, menemani
atasanku. Istriku menyambut, ia langsung meraih tasku dan membawanya ke
kamar.
Aku menghempaskan tubuhku di sofa ruang tamu, melepaskan lelah yang
tengah
menghampiriku. Aku merogoh kantong celanaku. Aku raih telepon genggamku
yang
sengaja aku nonaktifkan saat meeting. Aku berniat mengaktifkannya namun
aku
urungkan.
“Kenapa baru pulang jam segini?” Tanya
istriku sambil
duduk di sebelahku. Ia menyandarkan kepalanya tepat di dadaku.
“Aku habis dari meeting, Pak Robi
mengajakku
bertemu dengan client-nya.” Jawabku sambil membelai rambut
istriku.
“O ya, tadi aku sama temen aku beli
ini,” tiba-tiba
istriku bangkit dan mengambil sesuatu dari plastik putih yang ada di
meja.
“Apa ini?” tanyaku sambil membukanya.
“Sebulan yang lalu, kamu kan pernah
bilang kalo kamu
pengen beliin dompet itu buat Ayahmu, ya udah, tadi mumpung lagi ada
uang lebih
aku beliin,”
“Terima kasih, sayang!” ucapku sambil
mengecup
keningnya.
Istriku memang sangat perhatian, bukan
hanya denganku
tapi, dengan anggota keluargaku. Aku ingat benar, betapa tulusnya ia
menerima
keluargaku yang berasal dari kalangan ‘kurang mampu’. Aku masih ingat,
betapa
ia tidak mempedulikan statusku. Bukan hanya aku yang senang padanya,
anggota
keluarga begitu senang terhadap sikap baik Angel. Seperti hari ini, dia
membelikan dompet yang ingin aku berikan untuk hadiah ulang tahun
Ayahku. Sudah
lama aku ingin membelikannya dompet itu untuk ayah, tapi aku selalu saja
mengurungkan niatku itu, karena masih ada hal lain yang harus aku
penuhi.
***
“Ayah,” panggilku dari kejauhan ketika
kulihat Ayahku
sedang berdiri di sebuah pintu yang begitu terang. Entahlah dimana aku
tidak
tahu.
Ayahku hanya menoleh padaku, dia
tersenyum, kemudian
kembali memandang pintu itu lagi.
“Ayah,” panggilku lagi. Ayahku melakukan
hal yang sama
seperti sebelumnya.
Aku mendekatinya. Matanya terlihat cerah
di usianya
yang beranjak 65 tahun. Aku melihat wajahnya berseri-seri.
“Ayah, selamat ulang tahun, ini
untukmu,” kataku
sambil memberikan dompet yang dibelikan istriku.
Ayahku tersenyum menerimanya. Ia
terlihat begitu beda.
“Terima kasih anakku,” jawabnya pendek.
Aku tersenyum membalasnya. Lalu, ayahku
kembali
memandang cahaya terang yang ada di hadapannya. Ia berjalan seolah
mengabaikan
aku yang ada di dekatnya.
Aku terus memanggilnya, “Ayah, mau ke
mana? Ayah….
Ayah… Ayah… mau ke mana?” panggilku. Aku berlari mengejarnya, namun
sia-sia
sepertinya ia tak mendengarku.
***
Jam tiga pagi, Angel terbangun ketika
mendengar
suaminya sedang menggigau.
“Sayang, bangun! Sayang!” ucap Angel
membangunkan
suaminya yang tengah menggigau menyebut Ayahnya. Keringat bercucuran
dari
dahinya. Dada suaminya basah berkeringat. Angel bingung harus melakukan
apa.
“Ayah!” seru Johan kemudian tersadar
dari tidurnya
dengan nafas yang terengah-engah.
“Sayang, kamu kenapa?” Tanya Angel
panic.
Johan tak menjawab. Ia mencoba
mengontrol nafasnya
yang masih naik turun, terengah-engah seperti habis lari. Angel beranjak
dari
tempat tidur dan mengambilkan segelas air putih untuk suaminya itu.
“Minum dulu,” ucap Angel yang masih
diliputi
kebingungan.
“Mana handphone-ku,” kata Johan
setelah meneguk
air putih samba mencari handphone-nya.
“Ini, sayang!” Angel meraih handphone
yang berada di
dekat bed lamp dan memberikannya pada Johan.
“Kamu kenapa?” Tanya Angel yang masih
penasaran dengan
kejadian yang baru saja dialami oleh Johan.
“Aku mimpi Ayah,” jawabnya pendek sambil
berusaha
mengaktifkan handphone yang dimatikannya sejak ia meeting.
Terlihat
beberapa pesan masuk di layar. Johan mengabaikannya. Ia sesegera mungkin
mengontak Ayahnya. Johan baru ingat, kemarin ia berjanji untuk menelepon
Ayahnya tapi, diingkarinya. Lama Johan menunggu teleponnya tersembung
tapi, tak
ada yang mengangkat teleponnya. Johan kemudian membuka beberapa pesan
masuk di
handphone-nya. Beberapa pesan masuk itu dari Angel, teman Johan dan
Ayah! Tanpa
piker panjang, Johan langsung membuka satu persatu pesan dari Ayahnya
tersebut.
Sms pertama, “Nak, kapan pulang? Ayah
ingin
bertemu, sudah hampir dua tahun ini tidak pulang.”
Sms kedua, “Johan, Ayah masih
menunggu teleponmu,
aku ingin tahu kabar kehamilan istrimu,”
Sms ketiga,”Johan, kenapa HP mu tidak
bisa
dihibungi? Kamu marah sama Ayah?”
Sms ketiga, “Johan, ayah kamu masuk
rumah sakit
lagi. Jantungnya kembali bermasalah, ibu butuh bantuanmu, pulanglah…
ayahmu
ingin bertemu.”
Sms keempat,
“Johan, innalillah… ayahmu meninggal, pulanglah….”
Betapa terkejutnya Johan membaca pesan
terakhir yang
masuk sekitar empat jam yang lalu itu. Ia benar-benar kaget dan tak
percaya
ketika membacanya. Ia meremas rambutnya. Air matanya tak kuasa ia tahan
lagi.
Ia menangis menerima kabar kematian Ayahnya itu.
“Ada apa sayang?” Tanya Angel panic.
“Aku menyesal, Ngel! Harusnya kemarin
aku telepon
Ayah,” ucap Johan dengan suara yang bergetar.
“Ada apa?” angel bertanya semakin tidak
mengerti.
“Ayah meninggal,” jawab Johan pendek.
***
Aku berjalan dengan putus asa menyusuri
pemakaman umum
tempat Ayahku dimakamkan. Dengan pakaian serba hitam, aku menuju makam
Ayahku.
Ayahku meninggal karena serangan jantungnya. Harusnya, aku berada di
sampingnya
saat-saat terakhir ia membuka matanya tapi, aku justru tidak bisa
melihatnya
untuk yang terakhir kalinya. Ya Allah… kenapa harus begini?
Aku tak henti-hentinya menangis di depan
makam Ayahku.
Lama. Istriku juga begitu, ia juga trelihat sangat berduka dengan
kepergian
Ayahku. Sesekali aku menciumi batu nisan Ayahku. Aku ingin sekali
mencium
pipinya. Tapi semua telah terlambat. Hal itu hanya memuat penyesalan di
dadaku
semakin berat.
“Harusnya aku ada di sampingnya saat ia
menghembuskan
nafas terakhir kalinya,” ucapku dengan suara bergetar.
“Sayang, sudahlah, kita ikhlaskan
kepergiannya,” sahut
istriku.
“Ayah,
maafkan Johan, Johan sering mengabaikan Ayah dengan pekerjaanku. Tadi,
aku
lihat di kantong Ayah masih ada dompet lusuh yang berhasil membuat Johan
sukses
seperti sekarang. Heh… rupanya Ayah masih memakainya. Yah, menantumu
membelikan
dompet baru untukmu, harusnya aku bisa memberikannya saat ulang tahun
Ayah dua
bulan yang lalu. Ayah, aku menyesal tidak melakukan itu. Harusnya Ayah
bisa
menerimanya saat ulang tahun Ayah,” kataku dalam hati, merenungi apa
yang telah
aku lakukan selama ini. Menyesal. Aku benar-benar menyesal kini.
0 komentar:
Posting Komentar